Categories

AKTIVITAS ANTIBAKTERI FLAVONOID DAUN GAMBIR (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.)

Tanaman gambir (Uncaria gambir (Hunter) Roxb) merupakan komoditi ekspor terbesar di wilayah Sumatera Barat. Volume ekspor tanaman gambir pada tahun 2000 sebesar 6.633 ton dan meningkat pada tahun 2004 menjadi 12.438 ton. Hal ini menunjukan terjadi peningkatan volume ekspor sebesar 87,49% dan peningkatan nilai 17,16% selama kurun waktu 5 tahun (Dhalimi 2006).

Berdasarkan bukti empiris, selama ini daun gambir dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah Sumatera Barat sebagai kelengkapan untuk menyirih yang dipercaya dapat menguatkan gigi dan menghilangkan rasa nyeri pada gigi serta sebagai obat tradisional seperti obat luka, obat diare, dan penghilang rasa nyeri pada gigi. Selain itu getah dan daun gambir juga dimanfaatkan oleh beberapa negara importer gambir sebagai pewarna makanan dan penyamak kulit.

Beberapa bukti ilmiah mengenai khasiat tanaman gambir juga diketahui melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh Kresnawati et al. (2009) yaitu ekstrak etanol daun gambir yang termetilasi memiliki  aktivitas antioksidan yang lebih kecil dibandingkan sebelum dimetilasi. Idris (1997) melaporkan bahwa patogen Fusarium sp penyebab penyakit bercak daun tanaman klausena dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida nabati yang berasal dari ekstrak daun gambir. Hal tersebut menunjukan adanya komponen bioaktif yang terdapat pada tanaman gambir yang diduga berpotensi sebagai antimikrob.

Menurut Mylliniemi (2004) terdapat beberapa kelompok senyawa kimia yang berpotensi sebagai zat antibakteri di antaranya senyawa fenol, alkohol, halogen, detergen, senyawa asam dan basa, senyawa ammonium kuarterner, dan gas khemosterilan. Flavonoid merupakan kelompok  senyawa fenol dan paling banyak ditemukan hampir di semua jenis tumbuhan.

Hermawan (2009) menyebutkan bahwa komponen bioaktif utama pada daun gambir adalah flavonoid (terutama katekin sekitar 75%), zat penyamak (22-50%),  serta sejumlah alkaloid, tanin dan turunan dihidro- dan oksonya. Literatur lain menyebutkan komponen kimia terbesar pada tanaman gambir terdapat pada bagian daun berupa senyawa flavonoid (katekin 50%), Pyrocatechol 20-30%, Gambir fluoresensi 1-3%, Catechu merah 3-5%, Quersetin 2-4%, Fixed Oil 1-2%, Lilin 1-2%, dan  sedikit alkaloid (Lucida et al 2007).

Selama ini salah satu penyebab kerusakan bahan pangan ialah akibat adanya aktivitas bakteri. Salah satu bakteri yang paling sering mengkontaminasi bahan pangan ialah Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Tingginya kandungan flavonoid pada daun gambir diduga berpotensi sebagai antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan bahan pangan.

mengapa biokim perlu belajar kimia anorganik???

Mengapa kita harus belajar kimia anorganik?
Banyak reaksi biokimia tergantung pada keberadaan ion logam .. Ion-ion mungkin berada di dalam kompleks tertentu.
Banyak logam sangat penting untuk tumbuhan dan hewan, walaupun dalam banyak kasus, peran mereka tidak pasti.

Bagaimana senyawa anorganik dan ion membantu menimbulkan reaksi biochemichal?
Promosi reaksi dengan memberikan geometri yang tepat untuk memecahkan atau membentuk ikatan.
Perubahan aktivitas asam-basa.
Perubahan potensi redoks Beberapa ion (Na, K, Ca, Cl) bertindak sebagai pembawa muatan tertentu.  reaksi Organometalic dapat menciptakan spesies yang dinyatakan tidak dicapai. enzim Cobalamin adalah contoh khusus katalisis ini.

ion anorganik, baik kationik dan anionik digunakan sebagai unit struktural untuk membentuk tulang dan struktur keras lainnya. Pemeliharaan membran sel dan struktur DNA juga tergantung pada adanya kation untuk menyeimbangkan biaya di bagian organik.
Sebuah molekul kecil sedikit berpengaruh spesifik.  Logam yang mengandung enzim dan protein Fe (heme): Hemoglobin, peroksidase, katalase, cytocrome P-450, triptofan
Fe non heme: pyrocatechase, ferredoxin
Cu tirosinase, amine oksidase, lacase, askorbat oksidase
Co: mutase glutamat
Zn: anhydrase karbonat
Mg, K, Na, Mo, W

penentuan protein dengan metode bradford

Protein yang namanya berarti “pertama” atau “utama” merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan meyusun lebih dari setengah berat kering pada hamper semua organisame. Protein merupakan polimer alam yang tersusun dari asam-asam amino melalui polimerisasi kondensasi. Massa molekul relatif protein mencapai 103 sampai 106. Hidrolisis protein menghasilkan asam-asam amino penyusunnya. Sifat-sifat protein antara lain: titik didihnya tidak tertentu sehingga tidak dapat didistilasi (disuling); kebanyakan protein berupa koloid hidrofil; dapat mengendap pada pemanasan 1000C atau dengan penambahan larutan pekat NaCl, MgSO4, (NH4)SO4, alkohol, aseton, asam, dan basa; dengan asam-asam encer dapat terhidrolisis menjadi asam-asam amino penyusunnya (Lehnimger 1982).

Protein dalam sampel hayati dapat dikenali dengan beberapa macam reaksi. Reaksi pengenal protein, antara lain: uji biuret, uji xantoprotet, dan uji belerang. Uji biuret digunakan untuk mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein. Bahan yang akan diidentifikasi dalam uji biuret ditetesi larutan NaOH, kemudian larutan CuSO4. Adanya protein dalam bahan tersebut ditandai terbentuknya warna ungu. Uji xantoproteat digunakan untuk mengidentifikasi gugus fenil (cincin benzena) dalam protein. Adanya cincin benzena dalam protein ditandai terbentuknya warna kuning pada pemanasan HNO3 pekat. Adanya belerang dalam protein dapat diidentifikasi dengan cara memanaskan protein bersama larutan NaOH pekat kemudian ditetesi dengan larutan Pb(CH3COOH)2. Adanya belerang ditandai dengan terbetuknya endapan hitam dari PbS.

Kadar protein dalam sampel hayati dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri, baik menggunakan sinar uv maupun dengan sinar tampak setelah penambahan pereaksi pewarna yang intensitas warna yang dibentuknya sebanding dengan kadar protein. Salah satu pewarnaan yang praktis dan sensitif adalah metode Bradford dibandingkan cara lainnya seperti metode Biuret atau Lowry. Larutan yang mengandung 5-100 mg protein dapat ditentukan dengan metode lowry. Warna yang timbul, disebabkan oleh reduksi fosfomolibdat-fosfowolframat oleh tirosin yang ada dalam protein.

Reagen Bradford dibuat dari campuran 100 mg Coomassie Blue G250 yang dilarutan dalam 50 mL etanol 95%. Larutan ini kemudian dicampur dengan 100 mL asam fosfat 85%, diencerkan hingga 1 L dengan akuades. Reagen kemudian disaring dengan kertas whatman No. 1 sebelum disimpan pada suhu kamar. Reagen ini stabil untuk beberapa minggu, meskipun akan terjaadi pengendapan (Bradford 1976).

Metode Bradford adalah salah satu metode dalam penentuan kadar protein suatu bahan. Prinsip kerja dari metode Bradford didasarkan pada pengikatan secara langsung zat warna Coomassie Brilliant Blue G250 (CBBG) oleh protein yang mengandung residu asam amino dengan rantai samping aromatik (Tyrosine, tryptophan, dan phenylalanine) atau bersifat basa (Arginine, Histidine, dan Leucin). Reagen CBBG bebas berwarna merah-kecoklatan (lmaks 465 nm), sedangkan dalam suasana asam reagen CBBG akan berada dalam bentuk anion yang akan mengikat protein membentuk warna biru (lmaks 595 nm). Jumlah CCBG yang terikat pada protein proporsional dengan muatan positif yang ditemukan pada protein (Bradford 1976).

Metode Bradford memerlukan pereaksi NaCl dan Bovine Serum Albumine (BSA). Masing-masing pereaksi memiliki spesifikasi fungsi dalam menetukan kadar protein bahan. NaCl adalah sejenis garam yang berfungsi untuk membantu pengikatan zat warna CBBG oleh protein. BSA adalah larutan standar yang mengandung protein (Dennison 2002).